Sistem Peringkat dalam Pendidikan di Indonesia

Calista Dottie Indriashari (2019101035) – Ars A

Apakah sistem peringkat dalam pendidikan di Indonesia sudah tepat? Menurut saya, sistem peringkat dalam pendidikan di Indonesia tidak tepat. Sistem peringkat dapat merugikan siswa yang berada di urutan bawah karena merasa dianggap bodoh. Sistem ini juga dapat membuat siswa di peringkat atas merasakan sebuah beban mental untuk mempertahankan peringkat yang diperoleh. Namun, ada beberapa orang tua yang menuntut anaknya belajar lebih giat hanya untuk peringkat dan bukan bertujuan agar anaknya memiliki berbagai kemampuan di segala bidang dan ilmu. Padahal, sistem peringkat dapat memicu dampak negatif pada psikologi siswa seperti kurangnya kepercayaan diri, merasa tidak adil dan memicu persaingan secara tidak sehat.

Sistem peringkat tidak tepat diadakan dalam pendidikan di Indonesia dan menimbulkan masalah kepercayaan diri pada siswa. Hal ini terlihat pada siswa yang memiliki peringkat bawah merasa kurang percaya diri akan kemampuannya. Mereka mulai yakin bahwa dirinya bodoh dan malah membuat motivasi belajar menurun. Siswa di peringkat atas juga mendapat beban mental untuk mempertahankan peringkatnya dan mereka bisa tertekan jika peringkatnya turun. Padahal, peringkat tidak menjamin kemurnian prestasi belajar siswa. Prestasi belajar merupakan hasil usaha belajar yang dicapai seorang siswa berupa suatu kecakapan dari kegiatan belajar bidang akademik di sekolah pada jangka waktu tertentu yang dicatat pada setiap akhir semester di dalam bukti laporan yang disebut rapor (Syah,2013). Direktur Internalisasi Nilai dan Diplomasi Budaya pada Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan Nasional, Prof. Etty Indriati Ph.D menyatakan mestinya anak-anak tidak diranking karena akan memberikan stigma dan mempengaruhi secara psikologi siswa yang mendapatkan peringkat kurang bagus (Bandi,2018). Sama halnya saat saya masih SD, saat kelas 1 dan 2 saya memiliki peringkat 1 di kelas. Namun ketika saya kelas 3 SD, prestasi saya turun menjadi peringkat 12 dari 30 siswa karena saat itu saya tidak bisa mengejar materi ketika saya menderita demam berdarah dan cacar air. Saya pun merasa menjadi tidak percaya diri saat mulai dibanding-bandingkan dengan siswa lainnya. Sejak saat itu saya mulai sulit berkonsentrasi dengan pelajaran dan membuat saya malas belajar. Jadi, sistem peringkat dapat mempengaruhi kepercayaan diri siswa, seperti yang pernah saya alami.

Sistem peringkat juga menimbulkan rasa tidak adil pada siswa. Saat siswa memiliki kemampuan yang menonjol berbeda dengan kemampuan siswa lainnya, orang lain khususnya orang tua mulai membanding-bandingkan satu sama lain. Padahal, setiap siswa memiliki kemampuan yang berbeda-beda dan tidak pantas untuk dibandingkan satu sama lain. Sangat tidak adil membandingkan kemampuan siswa yang bisa ikut les berbagai pelajaran dan tercukupi gizinya dengan siswa yang kurang memiliki waktu belajar karena mereka harus membantu orangtuanya banting tulang. Berdasarkan teori Multiple Intelligence atau kecerdasan majemuk yang diperkenalkan oleh Dr. Howard Gardner, seorang psikolog dan profesor pendidikan dari Harvard University pada 1983, dalam dunia pendidikan sejatinya tidak ada anak yang bodoh. Setiap anak memiliki kemampuan yang berbeda-beda. Sayangnya, dunia pendidikan Indonesia berambisi menciptakan orang-orang yang bisa melakukan semua bidang (Setiawan,2015). Ada sekolah yang memisahkan kelas sesuai kecerdasan siswa dan hal ini terjadi saat saya SMA. Misalnya, siswa yang tergolong cerdas dikumpulkan di kelas A, siswa yang memiliki kemampuan rata-rata dikumpulkan di kelas B, siswa yang memiliki kemampuan kurang dikumpulkan di kelas C. Jika seperti ini, siswa yang ranking 10 di kelas A bisa saja menempati urutan ranking 1 di kelas C. Kualitas tiap sekolah berbeda-beda. Siswa yang menempati ranking 1 di sekolah dengan kualitas biasa bisa saja menjadi ranking 15 menurut standar sekolah favorit. Ada juga pendapat dari Adi Gunawan dalam buku Apakah IQ Anak Bisa Ditingkatkan? (2005), “Cara paling adil dan baik mengukur prestasi anak adalah dengan membandingkan prestasi saat ini dengan prestasi sebelumnya.” Jadi, sistem peringkat juga menimbulkan rasa tidak adil pada siswa.

Rasa tidak percaya diri dan tidak adil serta terus menerus mendapat tuntutan dari orang lain untuk mendapat ranking, tidak jarang siswa berkeinginan untuk bersaing secara tidak sehat. Ada yang mengandalkan contekan saat ujian karena malas belajar dan ada juga yang melakukan kasus ‘suap’ pada guru agar selalu mendapat nilai dan peringkat yang bagus. Seperti halnya saat saya bersekolah di SD swasta, saya melihat orang tua teman-teman saya ada memberikan sesuatu pada guru agar anaknya mendapat nilai dan peringkat yang bagus. Ketika saya SMP dan SMA, saya pun mulai melihat bahwa cara teman-teman saya untuk mendapat nilai dan peringkat yang bagus adalah dengan menyontek. Saat ujian maupun mengerjakan tugas pasti selalu melihat hasil jawaban dari orang lain. Mereka pun tidak ada niat untuk berusaha sendiri. Sehingga, persaingan secara tidak sehat juga timbul dari sistem peringkat dalam pendidikan di Indonesia.

Banyak orang tua menuntut guru dan sekolah menyediakan sistem ranking kelas anaknya. Orangtua berpendapat dengan mengetahui ranking anaknya, maka mereka mengetahui seberapa jauh daya saing anaknya dibandingkan murid yang lain. Mereka juga berpendapat bahwa sebagian perguruan tinggi menggunakan rangking sebagai syarat mendapatkan rekomendasi (Setiawan,2015). Namun, peringkat belum menjamin seorang siswa memiliki daya saing yang tinggi atau tidak. Ada beberapa faktor lain yang dapat mempengaruhi peringkat siswa contohnya kondisi pertemanan yang mengganggu konsentrasi, cara belajar siswa berbeda-beda, dan terkadang ada guru yang tidak adil dalam menilai. Untuk mendapat rekomendasi perguruan tinggi bisa didapatkan dengan cara lain, contohnya sertifikat pemenang lomba atau kompetisi tertentu yang sesuai dengan kemampuan siswa.

Dari berbagai argumen di atas, dapat disimpulkan bahwa sistem peringkat dalam pendidikan di Indonesia tidak tepat. Sistem peringkat dapat memicu dampak negatif pada psikologi siswa seperti kurangnya kepercayaan diri, merasa tidak adil dan memicu persaingan secara tidak sehat. Kurangnya kepercayaan diri dapat diatasi dengan cara menghargai kerja keras dan proses yang ditempuh siswa serta tidak cepat menghakimi anak itu bodoh hanya karena peringkatnya rendah. Rasa tidak adil harus diatasi secara bersama-sama, yaitu siswa, guru, dan orang tua agar tidak mudah membanding-bandingkan prestasi siswa satu sama lain. Sama halnya dengan persaingan secara tidak sehat harus diatasi bersama-sama. Siswa harus bisa untuk tidak berperilaku curang, orang tua dan guru pun seharusnya juga tidak mendukung perlakuan curang lainnya.

Daftar Rujukan

Bandi,Ilhamsyah. 2018. Polemik Sistem Rangking Pada Siswa di Indonesia. HipweeCommunity(2018), dilansir dalam https://www.hipwee.com/opini/polemik-sistem-rangking-pada-siswa-di-Indonesia/, diunduh pada tanggal 21 November 2019.

Handayani,Yunita. 2015. Kontradiksi Penghapusan Sistem Ranking di Sekolah. Kompasiana (25 Juni 2015), dilansir dalam https://www.kompasiana.com/nita.handayani/550916f0a33311a6452e3b83/kontradiksi-penghapusan-sistem-ranking-di-sekolah , diunduh pada tanggal 21 November 2019.

Matanasi,Petrik. 2016. Lingkaran Setan Sistem Ranking di Sekolah. Tirto.id(13 Desember 2016), dilansir dalam https://tirto.id/lingkaran-setan-sistem-ranking-di-sekolah-b9Ty , diunduh pada tanggal 21 November 2019.

Setiawan,Bukik. 2017. Bila Tanpa Sistem Ranking, Bagaimana Anak Siap Bersaing? TemanTakita(2017), dilansir dalam http://temantakita.com/sistem-ranking-bersaing/ , diunduh pada tanggal 21 November 2019.

Syah,Muhibbin. 2013. Psikologi Pendidikan Dengan Pendekatan Baru. Bandung: Remaja Rosdakarya.

Diterbitkan oleh calistadottie

Architecture's Student

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

Buat situs web Anda di WordPress.com
Mulai
%d blogger menyukai ini: